Install this theme
kritik untuk diri saya dan dia karena dia

Secara ga sadar dalam kehidupan kita sehari-hari, setiap orang saling menjelekkan orang lain terutama personalitinya karena suku. Sudah terlalu banyak pertikaian karena mempermasalahkan isu, agama, dan gender. Setiap suku saling menjelekkan di belakang atau bahkan saling melabelkan dirinya berdasarkan etnis tertentu.

Dan saya baru sadar bukan cuma orang india ato orang arab aja yang suka ngomong keras2 ga kenal tempat. Orang indonesia juga kalo udah ngumpul sama sesamanya juga suka teriak2 ketawa2 gak kenal waktu dan tempat. Intinya jangan suka nilai orang karena dia orang arab, orang india, terus pasti berisik dan bau minyak ‘nyong-nyong’. Jangan suka nilai orang padang pelit, doyan duit (matre), cerewet, cowok2nya egois. Jangan suka nilai orang palembang itu kasar, mulutnya kasar, suka teriak2, pemales. Jangan suka nilai orang jawa itu suka ‘makan dalem’, orangnya nerimo, ngomongnya pelan-pelan. Jangan suka nilai orang medan itu suka teriak2 kayak orang lagi ngomong di pantai, kalo nangis meraung-raung. Itu semua penilaian dan sterotype peninggalan kolonial! sekarang ini dunia udah modern, man!

Saya akuin saya juga sempat menaruh stereotype sama etnis tertentu. Karena beberapa hal dan perbincangan keseharian yang semakin rasis, alhamdulillah mata saya semakin terbuka karena apa yang saya anggap selama ini ternyata salah. Setiap kaum saling menjelek-jelekkan etnis lain. Menganggap etnis lain itu buruk sifatnya, di sisi lain saat saya berada dalam etnis yang di jelek-jelekkan tersebut saya juga mendengar hal yang sama mengenai etnis yang menjelek-jelekkan mereka. Tanpa mereka sadari, mereka saling menjelek-jelekkan kaumnya satu sama lain. Ironis.

Di saat saya berada di dalam lingkungan yang seperti ini saya berusaha bersikap netral namun ada kalanya saya juga ikut ‘nyemplung’ ke dalam perbincangan yg sangat rasis ini. Setelah saya melakukan ini, saya merasa malu sama diri sendiri. Pikiran saya sangat sempit, dan kekanak-kanakan kayak saya tinggal di desa terpencil nun jauh disana, gak kenal teknologi, gak pernah sekolah dan gak pernah bersosialisasi sama orang dari luar sana yang berbeda budaya. (berbeda budaya gak harus langsung ke luar negeri, kayaknya lo harus keliling Indonesia dulu deh biar bisa akrab sama budaya negeri sendiri)

Masih berhubungan dengan ‘quote’ dibawah ini, saya harus mencoba ngerubah penilaian saya sendiri baru saya bisa mempengaruhi orang-orang disekitar saya. Saya gak mau jadi ‘superhero’ yang sok ngerubah orang, tapi saya harap saya bisa mulai dari diri sendiri untuk tidak menilai sikap, kebiasaan atau personaliti orang dari etnis, agama atau gendernya. Apapun itu, setiap orang terlahir murni tanpa label apapun, dan budaya yang menempel dari sejak ia lahir hingga dewasa adalah hasil didikan orangtua dan lingkungan sekitarnya, tempat dia tumbuh. Saya bukan sosiolog jadi mungkin pemikiran saya juga tidak sepintar mereka. Saya juga kurang tahu istilah-istilah hebat seperti cendikiawan dan ilmuwan sana. Saya hanya ingin menuangkan pikiran saya saja. Toh, ini juga tulisan saya pribadi, blog saya pribadi dan saya berharap sebelum orang mengkritik tulisan saya, mereka juga bisa menilai diri mereka sendiri dahulu.

Setiap orang tidak sempurna, tapi kalau mereka mencoba untuk memperbaiki diri dan mau belajar, terkadang ‘mengalah’ juga bisa membawa kita kepada kemenangan. Back to the main point, satu resolusi saya yaitu saya harus mencoba untuk menilai seseorang karena jati diri orang itu sendiri. Bukan dia karena jenis kelaminnya. Bukan dia karena agamanya. Bukan dia karena etnisnya. Namun, karena dia adalah dia dan sifatnya sebagai individual pribadi.